ABOUT US
ARSIP
BANK ACCOUNT
Bank Syariah Mandiri Cabang Bogor, Nomor: 0167071195, An: Nasrudin Latif BDN Daarul Uluum. Bank Jabar Cabang Bogor, Nomor: 0003395944100, An: Yys Pesantren Daarul Uluum/Nasrudin.
EXTERNAL LINKS
ASAL PENGUNJUNG
free counters
KUNJUNGAN
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini:87
mod_vvisit_counterKemarin:50
mod_vvisit_counterMinggu Ini:288
mod_vvisit_counterBulan Ini:624
SEDANG ONLINE
Ada 1 pengunjung yang sedang online saat ini

Biografi Pendiri

KH. Elon Syujai, pendiri dan perintis Daarul Uluum, dilahirkan di Bantarkemang, Bogor, Jawa Barat, pada tahun 1912. Ia adalah anak dari pasangan suami istri Mudai dan Andewi.

Elon Syujai dibesarkan dalam lingkungan masyarakat yang tidak begitu agamis. Saat itu, Bantarkemang, tempat tinggalnya, bukanlah lingkungan yang kondusif. Masyarakatnya sudah terbiasa hidup dalam lingkungan premanis. Alkohol dan prostitusi sangat mudah ditemukan. Para jawara menguasai banyak sendi kehidupan masyarakat. Bahkan, Elon Syujai sendiri adalah cucu salah seorang jawara besar Bantarkemang saat itu yang bernama Empuh Uning.

Walaupun hidup dan dibesarkan dalam lingkungan semacam itu, Elon Syujai sudah memiliki kecenderungan religius yang sangat kental sejak masa kanak-kanaknya. Kecenderungannya inilah yang kemudian membimbingnya menapak jalan keulamaan sampai akhir hayatnya.

Elon Syujai mengeyam pendidikan keagamaannya pertama kali dari Ajengan Baihaqi, seorang ulama di Leuwinanggung, Bogor. Cukup lama dia menimba ilmu dari ulama ini sampai kemudian melanjutkannya ke Pondok Pesantren Kadukaweng, Banten. Di pesantren ini, ia belajar selama kurang lebih 4 tahun.

Setelah sesaat pulang ke kampung halamannya, Elon Syujai melanjutkan lagi belajarnya ke Cipanas sampai ia berusia dewasa. Di tempat ini, selain mengikuti pendidikan agama, ia pun mengikuti pendidikan umum di Sekolah Rakyat. Oleh karenanya, selain memiliki pengetahuan keagamaan, khususnya khazanah kitab-kitab salafi, Elon Syujai pun memiliki kemampuan membaca dan menulis latin. Sedikit kemampuan berbahasa Belanda pun ia peroleh di tempat ini.

Setelah menamatkan pendidikan formal tingkat Sekolah Rakyat, Elon Syujai memperdalam lagi pengetahuan agamanya di Pondok Pesantren Gunung Puyuh, Sukabumi, yang dipimpin oleh Ajengan Sanusi. Belum cukup sampai di situ, beberapa tahun kemudian, Elon Syujai berangkat lagi untuk berguru ke Ajengan Sathibi di Gentur, Sukabumi. Melihat potensi besar yang dimiliki serta semangat belajarnya yang tinggi, Ajengan Sathibi kemudian mendorong Elon Syujai untuk memperdalam ilmunya ke beberapa pesantren di wilayah Garut dan Tasikmalaya.

Di kedua kota inilah kemudian Elon Syujai bertemu dengan ulama-ulama besar Jawa Barat dan bersahabat dengan orang-orang yang, di kemudian hari, menjadi tokoh-tokoh ulama dan politik, seperti KH Khoir Afandi (Pemimpin Pondok Pesantren Miftahul Huda, Tasikmalaya), KH Gunung Puyuh (Sukabumi), KH Nur Ali (Pemimpin Pondok Pesantren At-Taqwa, Bekasi), KH Soleh Iskandar (Bogor), dan lain sebagainya. Pada periode ini, Elon Syujai mulai bersentuhan dengan spirit-spirit ideologis, ide-ide pergerakan, pemberdayaan, dan pembaharuan masyarakat. Ia pun, kemudian, mulai berkenalan dengan dunia politik, bahkan terlibat di dalamnya walaupun tidak secara langsung. Keterlibatannya dalam Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia), misalnya, adalah salah satu bentuk kiprah Elon Syujai di bidang ideologi dan politik.

Persentuhannya dengan organisasi semacam Masyumi, ternyata sangat memberi warna tersendiri dalam perjalanan hidup Elon Syujai setelah ia, kemudian, kembali ke kota kelahirannya. Masyumi adalah organisasi politik Islam yang dinilai radikal oleh rezim pemerintah saat itu, baik pemerintah Orde Lama (Orla) di bawah Soekarno, maupun pemerintah Orde Baru (Orba) di bawah Soeharto. Secara politik, Masyumi dinilai sebagai lawan pemerintah. Catatan keterlibatannya dalam organisasi politik ini menyebabkan dirinya turut diposisikan sebagai ancaman terhadap pemerintahan saat itu. Elon Syujai dinilai sebagai ulama yang turut mendukung ide penggantian asas negara dari Pancasila menjadi Islam. Penilaian-penilaian semacam itu sempat menyebabkan dirinya dipenjara selama 2 tahun di penghujung kekuasaan Soekarno. Ia ditahan tanpa sempat menjalani proses pengadilan dan baru bisa bebas kembali saat rezim Soeharto berkuasa menggantikan rezim Soekarno.

Sikap rezim Soeharto yang, ternyata, lebih represif terhadap kelompok muslim radikal, mengharuskan Elon Syujai mengambil pendekatan baru dalam mengelola hubungannya dengan pemerintah. Hal itu harus dilakukan agar komunitas pesantren yang dipimpinnya tidak berbenturan dengan kepentingan penguasa. Terlebih lagi saat Soeharto menggulirkan kebijakan asas tunggal. Melalui kebijakan itu, seluruh organisasi, apapun juga, diwajibkan untuk menjadikan Pancasila sebagai asasnya.

Sejak digulirkannya kebijakan asas tunggal tersebut, Elon Syujai, mulai menerapkan strategi politik yang disebutnya “nyumput di nu caang”, yang berarti “sembunyi di tempat yang terang." Filosofi politik itu adalah seperti menghindari kejaran polisi dengan cara bersembunyi di kantor polisi, atau menghindar kejaran macan dengan cara bersembunyi di kandang macan. Strategi politik untuk menghindarkan perbenturan dengan penguasa itu diterapkannya dengan cara menerima tawaran bergabung dengan Golkar (Golongan Karya). Karirnya di di institusi politik ini sangat cemerlang. Dalam struktur partai ini, misalnya, Ia pernah menjabat sebagai anggota Dewan Penasihat Partai.

Strategi politik yang diterapkannya ini terbukti bisa menciptakan hubungan yang sangat baik antara Elon Syujai dengan pemerintah, baik di tingkat kota, propinsi, bahkan sampai di tingkat pusat. Para pejabat pemerintah Orde Baru silih berganti datang berkunjung, bertukarpikiran, dan meminta nasihat-nasihatnya. Gambaran bagaimana kedekatan KH Elon Syujai dengan para pejabat Orde Baru dapat dilihat pada saat dengan mudahnya ia mengundang Adam Malik, Wakil Presiden RI, untuk hadir di pesantrennya dan meresmikan mesjid yang baru selesai dibangun.

Satu hal yang patut dicatat adalah bahwa KH Elon Syujai tidak pernah bersikap aji mumpung dengan memanfaatkan kedekatannya dengan para pejabat pemerintah untuk meminta-minta aneka macam bantuan. KH Elon Syujai tidak pernah menolak jika memang pemerintah ingin membatu pesantrennya selama tidak ada syarat apapun. Namun, ia tidak pernah secara sengaja memanfaatkan hal itu untuk mengeruk dana sebanyak-banyaknnya.

Lebih dari pada itu, KH Elon Syujai tetaplah seorang ulama yang hidupnya sangat sederhana. Begitu sederhananya, sampai-sampai, seluruh lokal bangunan pesantrennya penuh diisi dan ditinggali oleh para santri. Ia hanya menyisakan sepetak kamar seluas 4x3 meter persegi sebagai tempat tinggalnya. Siapapun bisa datang menemuinya kapanpun dan jam berapapun juga, tanpa harus membuat berjanji lebih dahulu.

KH Elon Syuja'i dipanggil Allah SWT pada tanggal 5 April 1990. Ribuan orang datang berduyung-duyung untuk berta'ziyyah, menyalatkan, dan menghantarkan jenazah almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya. Jenazah almarhum diusung dan dioper dari tangan ke tangan oleh begitu banyak warga, mulai dari mesjid, tempat jasad beliau dishalatkan, sampai ke pemakaman. Mereka semua berdiri dan berbaris rapih secara berhadap-hadapan sepanjang 1 kilometer menanti operan jenazah (Klik untuk melihat dokumentasi wafatnya Almarhum KH. Elon Syujai).

 

INTERNAL LINKS

EXTERNAL LINKS

SUPPORTED BY