ARSIP BERITA
Kunjungan ICRS-UGM ke ICDW-DU
Radikalisme, sesungguhnya, muncul sebagai ekses dari ketidakadilan yang begitu kentara terlihat di masyarakat, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, hukum, dan lain sebagainya. Radikalisme tidak akan dapat dibasmi oleh tindakan-tindakan refresif. Sebarkanlah pemerataan dan keadilan. Dengan itu, radikalisme tidak akan memiliki lahan subur untuk berkembang.
Demikian sebagian pokok pikiran yang disampaikan oleh Ustadz Nasrudin Latif, Pembina Utama Indonesian Center for Deradicalisation and Wisdom (ICDW) Daarul Uluum, Bogor, dalam kesempatan menyambut kunjungan Professor Dr. Mark Woodward dan Ali Amin, peneliti dari CRCS-UGM Yogyakarta. Woodward adalah seorang Guru Besar di Arizona State University, Amerika Serikat, yang kini menjadi dosen tamu di Universitas Gajah Mada.
Dalam dialog pada kunjungan tersebut, Nasrudin menegaskan pula bahwa radikalisme tidak memiliki dalil-dalil pembenar dalam ajaran Islam. Islam disebarkan oleh Rasulullah dalam bingkai kesantunan, bukan dengan cara kekerasan. Radikalime yang saat ini tumbuh di bumi Indonesia hanyalah sebuah akibat. Memburu, menangkap, memenjarakan, atau bahkan menembak mati kaum radikal tidak akan mampu menghapuskan ide-ide radikalisme selama faktor-faktor pemicunya masih ada. Satu orang teroris dibunuh, malah akan menjadi momentum lahirnya sepuluh teroris baru.
"Lihat saja, Imam Samudera itu malah menjadi pahlawan di hadapan istri dan anak-anaknya, juga di hadapan mereka yang diam-diam menganguminya" ingat pria yang lebih akrab disapa Kyai Kampung itu.
Kesan bahwa pesantren adalah tempat bersemayamnya benih-benih radikalisme sangatlah menyesatkan. Melalui ICDW, Daarul Uluum berusaha menunjukkan bahwa pesantren justru memiliki potensi di mana benih-benih radikalime dapat dihilangkan sedini mungkin. ICDW berusaha terlibat aktif dalam mengikis akar-akar radikalisme dengan cara dan pendekatan yang sama sekali berbeda.
"Daarul Uluum, misalnya, selalu mendidik para santrinya untuk memiliki kepribadian dan sikap hidup yang jelas, mandiri, namun tetap toleran dengan perbedaan dan keanekaragaman," tegasnya.
"Mereka yang memiliki kecenderungan radikal kami dekati dan, pada waktunya, kamiĀ bukakan bahwa medan jihad itu sangatlah luas. Jihad tidaklah identik dengan perang. Menjadikan diri kita sebagai orang-orang produktif di dan bermanfaat bagi masyarakat adalah bagian dari jihad. Bukankah rasulullah sendiri menegaskan bahwa jihad yang paling berat adalah berperang melawan diri sendiri? Dan, satu lagi, Nabi sendiri menegaskan bahwa manusia terbaik itu adalah mereka yang paling banyak menebarkan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya", urainya.



















