ABOUT US
ARSIP
BANK ACCOUNT
Bank Syariah Mandiri Cabang Bogor, Nomor: 0167071195, An: Nasrudin Latif BDN Daarul Uluum. Bank Jabar Cabang Bogor, Nomor: 0003395944100, An: Yys Pesantren Daarul Uluum/Nasrudin.
EXTERNAL LINKS
ASAL PENGUNJUNG
free counters
KUNJUNGAN
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini:87
mod_vvisit_counterKemarin:50
mod_vvisit_counterMinggu Ini:288
mod_vvisit_counterBulan Ini:624
SEDANG ONLINE
Ada 1 pengunjung yang sedang online saat ini

ARSIP FEATURE DAN ARTIKEL

Al-Qur'an dan Tradisi Sastrawi Bangsa Arab

Jika kita mempelajari sejarah perkembangan islam, khususnya pada periode awal ketika agama ini mulai dipermaklumkan kehadirannya oleh Muhammad SAW, kita akan mendapatkan banyaknya kisah-kisah menarik seputar keluarbiasaan sastrawi bahasa Al-Qur’an. Wahyu-wahyu yang diterima Muhammad Saw dan kemudian disampaikannya kepada masyarakat Makkah selalu menjadi magnet yang mampu menyedot perhatian. Bukan saja karena pesan-pesan ketuhanan dan pesan-pesan moralnya yang bertentangan dengan doktrin ketuhanan yang saat itu berlaku, namun, lebih dari itu, keunikan struktur bahasa wahyu itu yang terasa istimewa dalam tradisi berbahasa masyarakat arab.

Daya “magis” gaya bahasa wahyu-wahyu Allah ini tidak hanya dirasakan kekuatannya oleh kaum muslim generasi awal, namun juga dirasakan bahkan oleh para penentang Muhammad SAW sendiri. Abu Jahal, misalnya, adalah salah satu contoh tokoh penentang keras kenaiban Muhammad yang, dikisahkan, seringkali  mencuri-curi kesempatan untuk mendengarkan dan menyimak bacaan al-Qur’an. Hal itu dilakukan bukan untuk menyelami kebenaran pesannya, tapi untuk “menikmati” kelezatan sastrawi bahasanya.

Hal serupa dilakukan juga oleh tokoh-tokoh masyarakat Mekkah lainnya. Daya magis bahasa al-Qur’an itu, dalam kenyataannya, mampu pula menggiring orang-orang tertentu untuk mau menyelami kedalaman pesannya dan, kemudian, menerima kebenarannya.

Umar Bin Khattab adalah salah seorang yang proses keislamannya sangat fenomenal. Umar, sebagaimana Abu Jahal, adalah juga salah satu tokoh penentang keras kenabian Muhammad. Namun, kekerasan sikapnya itu serta merta runtuh saat secara tidak sengaja mendengar bagaimana wahyu-wahyu Allah ini dibacakan Hafsah, adik perempuannya yang lebih dahulu menjadi pengikut Muhammad SAW.

Bagi sementara orang, kisah-kisah sebagaimana terpapar di atas, mungkin, sangat sulit diterima karena munculnya kesan yang terlalu dilebih-lebihkan.  Bagaimana bisa orang yang memiliki watak sekeras Umar Bin Khattab, tiba-tiba, menjadi begitu “melankolis” hanya karena mendengar sebuah bacaan al-Qur’an.

Saya beruntung digariskan menempuh tahapan-tahapan pendidikan di mana saya memiliki kesempatan lebih banyak untuk mempelajari rumpun-rumpun bidang disiplin ilmu bahasa arab. Dengan mempelajari cabang-cabang utama ilmu bahasa arab -seperti nahwu, sharaf, balaghah, dan lain sebagainya- saya bisa mendapatkan jawaban atas berbagai persoalan seperti terpapar di atas.

Keluarbiasaan, yang kemudian oleh para ahli bahasa arab diperkenalkan dengan istilah I’jaz (mukjizat)  al-Qur’an, dan “kelezatan” sastrawinya hanya akan dapat kita cerap lebih jauh jika kita mempelajari dan mendalami bahasa dan tradisi kesusasteraan Arab. Saya percaya, keunikan yang dimiliki al-Qur’an pada aspek ini tidak akan pernah bisa dialihkan ke bahasa lain, sebagus apapun al-Qur’an diterjemahkan.

Salah satu keluarbiasaan retoris (balaghah) al-Qur’an yang sedang mendapat banyak perhatian saya adalah cara tutur dan struktur bahasa yang dipakainya ketika memaparkan masalah-masalah eskatologis, seperti doktrin tentang hari akhir, kehancuran semesta raya,  surga, neraka, dan lain sebagainya.

Ketika menjelaskan tentang fenomena kiamat dan kehancuran semesta dalam surat al-zalzalah, misalnya, gaya tutur al-Qur’an sangatlah sederhana, ringkas, namun sangat efektif. Siapapun yang menyimaknya bisa membayangkan dasyatnya kehancuran semesta di momentum hari yang sangat menakutkan itu…

 

INTERNAL LINKS

EXTERNAL LINKS

SUPPORTED BY