ARSIP KISAH JENAKA
Perjuangan yang Sia-sia
Sia-sia saja perjuangan pak Fulan untuk bisa menunaikan hajatnya di rumah. Siang itu, orang tua salah satu santri Daarul Uluum ini sedang berada di pasar. Tiba-tiba perutnya terasa melilit: ingin buang air besar
Karena tidak terbiasa menggunakan WC umum, orang tua ini langsung meluncur pulang ke rumahnya yang berjarak 7 kilometer dari pasar.
Setengah berlari, ia bergerak cepat menuju ke tempat parkir sepeda motor. Tanpa membuang waktu, mesin sepeda motor langsung dihidupkan. Helm dan jaket dikenakannya dengan tergesa, lalu meluncur cepat menuju rumahnya.
Perut yang semakin melilit membuatnya tidak ragu menekan gas kendaraan itu dengan dalam. Sepeda motor meluncur dan meliuk-liuk cepat di tengah kemacetan jalan. Polisi tidurpun tidak lagi dipedulikan. Lobang-lobang di pinggir jalan tetap dilahap tanpa mengurangi kecepat. Rem sepeda motor seolah terlupakan.
Sesampainya di teras rumah, motor dihentikan. Tanpa sempat mematikan mesin, pria itu meloncat dari atas sepeda motor dan langsung berlari ke kamar mandi di bagian belakang rumahnya. Jaket dan helm dilepas dan dilemparkannya entah ke mana. Perut tidak lagi mau memberi kesempatan.
Bondan, anaknya, yang sedang duduk di meja makan hanya menatap heran melihat ayahnya berlari tergesa, Namun ia segera mafhum saat menyadari bahwa WC adalah tempat yang ditujunya.
Sayang, sesaat sebelum pintu WC dibuka, terdengar suara "PRETTT" dari bagian pantat sang ayah. Bondan tidak mampu menahan tawanya, lebih-lebih melihat sang ayah berdiri lemas di depan WC.
"Kok gak langsung ke WC beh?....", tanya Bondan sambil menahan tawa. "Diam kamu!!!...", jawab pak Fulan ketus. Perjuangan kerasnya menunaikan hajat di rumah sia-sia...


















